17 December, 2010

Gaya Belajar, dan Daur Belajar

David Kolb, salah satu dari sejumlah ahli di bidang ini, mengemukakan empat jenis gaya belajar (Learning Style) . Gaya belajar yang dimaksud adalah cara belajar yang menjadi kebiasaan, dan menjadi cara paling nyaman bagi orang dewasa tersebut untuk mempelajari sesuatu.


Kolb membangun konsep itu berdasarkan asumsi bahwa di dalam kegiatan belajar orang melibatkan empat aspek yaitu pikiran (konseptualisasi abstrak – abstract conceptualization); perasaan (pengalaman konkrit – concrete experience); pengamatan (observasi reflektif – reflective observation); dan perbuatan (eksperimentasi aktif – active experimentation). Setiap individu menurut Kolb hanya mempunyai kecenderungan mengkombinasikan dua aspek, dan sebab itu muncullah empat jenis gaya belajar yakni: The accommodator, The assimilator, The diverger, dan The converger.

The Accommodator, perpaduan karakter eksperimentasi aktif dan pengalaman konkrit. Mereka yang kebiasaannya belajar dari pengalaman kongkrit, menurut Kolb, membuat penilaian atas dasar intuisi yang lahir dari pengalaman mereka salama ini, daripada berdasarkan teori. Buat mereka, teori dianggap terlalu abstrak, dan tidak relevan dengan kehidupan sehari-harinya. Mereka adalah orang yang berorientasi pada lingkungan sosial, lebih mempercayai kolega sebaya, daripada orang-orang yang dianggap “lebih mampu/pintar”. Mereka biasanya lebih mudah mengambil manfaat dari teman-teman sebaya dengan gaya belajar yang relatif sama.

The Diverger, perpaduan karakter pengalaman konkrit dan pengamatan reflektif. Pebelajar yang merasa nyaman dengan cara belajar pengamatan reflektif, lebih senang mendengarkan, dan cenderung lebih suka bereksperimen. Mereka biasanya lebih suka mengambil jarak terlebih dahulu sebelum membuat keputusan atau penilaian, Menurut Kolb, mereka ini cenderung introvert dalam situasi belajar, dibanding kolega sebayanya yang aktif, karena mereka ini cenderung mengamati, mendengarkan, dan belajar dari situasi tersebut.

The Assimilator, perpaduan karakter pengamatan reflektif dan konseptualisasi abstrak. Mereka yang nyaman dengan cara belajar melalui konseptualisasi, seringkali lebih menggunakan logika saja, dan cara pandangnya cenderung obyektif. Kolb menyatakan, bahwa mereka akan cenderung lebih memperhatikan sesuatu dibalik tema belajar, atau simbol-simbol dan tidak terlalu fokus pada kolega sebayanya. Mereka akan belajar lebih baik dari para figur yang dianggapnya paling layak untuk didengar.

The Converger, perpaduan karakter konseptualisasi abstrak dan eksperimentasi aktif. Seseorang yang aktif bereksperimentasi, atau seorang inovator, dapat belajar dengan baik dari pengalaman yang kongkrit. Mereka adalah juga orang-orang yang estrovert, tetapi tidak memandang setiap masalah dengan pendekatan yang khusus. Mereka akan mencoba mengembangkan hipotesis dan secara aktif mengujicobanya. Mereka ini adalah tipe yang membenci ceramah, dan berbagai bentuk pembelajaran pasif lainnya.

Gaya Belajar Model Kolb dimaksudkan khusus untuk orang dewasa, yang telah mengalami akumulasi pengalaman hidup dalam rangka pengembangan dirinya. Usia yang sudah puluhan tahun, adalah waktu untuk belajar dan menganut nilai. Berdasarkan gaya belajar ini, lalu muncul daur belajar untuk orang dewasa, yang sebenarnya juga berlaku untuk anak.  Kelemahannya, anak memiliki pengalaman hidup yang masih terbatas, sehingga harus dikondisikan sedemikian rupa.

Model Kolb menampilkan daur/siklus belajar (pandangan pembelajaran non-linier) yang mencakup empat proses; (1) Merasakan sendiri (mengalami), (2) Merefleksi, (3) Menggeneralisasi, (4) Mempraktekkan.

Kolb menunjukkan bahwa secara individual, warga belajar tidak mungkin menemukan diri mereka secara akurat pada empat gaya belajar di atas. Hal ini karena setiap orang belajar dengan kombinasi metode, berdasarkan keempat kategori. Namun, orang dapat dicirikan sebagai orang yang cenderung pada satu jenis cara belajar. Oleh karena itu, dalam kelompok apapun, ada kemungkinan orang merasa nyaman jika menggunakan beragam metode pembelajaran.

Dalam daur belajar ini, proses yang dilalui pebelajar dalam suatu proses disarankan mengikuti alur seperti daur, mulai dari merasakan sendiri, hingga kemudian mampu merencanakan kapan pengetahuan/keterampilan baru tersebut dapat digunakan/dipraktekkan. Meskipun ada 4 tahap pembelajaran dalam Learning Cycle atau Daur Belajar tersebut di atas, secara teoritis menurut Kolb proses pembelajarannya dapat dimulai dari mana saja, dan dapat berakhir di mana saja. Karena dalam pelatihan setiap orang memiliki gaya belajar yang unik, maka menggunakan keseluruhan tahapan dalam daur tujuannya maksudnya adalah mengakomodir berbagai perbedaan tersebut.

Tahapan mengalami, diharapkan membantu mereka yang berkarakter concrete experience, tahapan Merefleksi, mengakomodir warga belajar yang berkarakter reflective observation. Tahap Menggeneralisasi, akan membantu warga yang berkarakter abstract conseptualization agar bisa mengikuti proses pembelajaran. Dan tahap keempat, Mempraktekkan, mencoba meyakinkan warga belajar yang memang hanya bisa belajar dengan karakter active experimentation.

Idealnya, pembelajaran memang dapat dimulai dari tahap Mengalami. Kegiatan belajar harus dirancang sedemikian rupa, sehingga warga belajar akan melakukan sesuatu dan mendapatkan pengalaman kongkrit dari apa yang dilakukannya. Sebenarnya, bisa juga dengan cara menggali pengalaman warga belajar selama ini tentang suatu kasus. Misalnya, pengalaman naik sepeda, atau menonton televisi. Yang harus diperhatikan, jangan sampai peserta belajar merasa “bosan” atau diperlakukan secara berlebihan dengan proses yang memaksakan keempat tahapan belajar tersebut.

Setelah itu, warga belajar dapat diajak untuk merefleksikan, apa yang sudah dialami dalam kegiatan sebelumnya. Kegiatan ini yang dimaksud sebagai Merefleksi. Warga belajar diharapkan dapat mengidentifikasi apa saja yang dipelajarinya/dirasakannya, melalui proses seperti apa, dan apa kekuatan-kelemahannya. Setelah itu dapat dilanjutkan dengan mendiskusikan bagaimana meningkatkannya di masa depan. Dapat juga dilengkapi dengan proses pembahasan berbagai pengalaman dari masing-masing warga belajar, untuk memperkaya hasil pembelajaran.

Untuk warga belajar yang sudah berhasil merefleksikan apa yang dialami dalam pembelajarannya, beri kesempatan kepada peserta yang ingin merumuskannya dalam bentuk konsep atau teori. Inilah proses Konseptualisasi/Generalisasi (Abstract conceptualization).  Kegiatan belajar yang eksperimentatif, dengan mudah akan memberi peluang kepada warga belajar untuk menemukan 'teorinya' sendiri. Teori ini semakin mudah dibangun jika pengalamannya cukup kaya.

Tahap berikutnya, warga belajar yang sudah berhasil merumuskan dapat diberi kesempatan untuk mempraktekkannya sendiri, dalam bentuk Rencana Aksi (Active Experimentation), atau kalau memungkinkan dapat juga dilakukan pada saat kegiatan belajar berlangsung. Warga belajar pada tahap ini diharapkan mampu menerapkan apa yang sudah dipelajarinya untuk mengatasi/memecahkan persoalan yang biasa dihadapinya sehari-hari, baik di tempat kerja maupun dalam sistuasi yang lain.

Tahapan belajar ini bisa tidak berhenti, ketika praktek yang sudah dilakukan warga belajar direfleksikannya kembali, diteorikan kembali, dan seterusnya. Berdasarkan proses seperti ini, tahapan yang bisa dianggap penting adalah proses refleksi, karena dengan melakukan itu pengalaman kongkrit akan berguna sebagai proses belajar, bukan sekedar pengalaman hidup. Dengan kemampuan merefleksi, belajar sepanjang hayat bagi orang dewasa dapat terjadi di mana saja, tidak hanya di ruangan pelatihan.

P = Pengalaman di masa lalu, atau dihadirkan pada saat kegiatan belajar.
RA = Refleksi dan Analisa terhadap pengalaman
G = Generalisasi atau penyimpulan hasil analisa.
A = Aksi, atau proses mempraktekkan pengetahuan baru.

Siklus kegiatan belajar yang sepanjang hayat, dapat dilihat sebagai tahap, berdasarkan tujuan antara yang ingin dicapai sebelum mencapai tujuan belajar yang utama. Pengalaman yang dihadirkan pada tujuan antara yang pertama (P1), diproses melalui kegiatan Refleksi dan Analisa  (RA1), dan menghasilkan kesimpulan yang berupa pengetahuan baru (G1). Setelah dipraktekkan (A1), akan menghasilkan pengalaman yang baru/kedua (P2), dan seterusnya hingga memunculkan pengalaman akhir yang merupakan kemampuan yang diinginkan pada tujuan belajar.
Post a Comment