25 January, 2011

Bermain dan Belajar di 'Sekolah' Taman

Dari Harian Pikiran Rakyat, 22 Januari 2011.

Mari Bersekolah di Taman Kota


Afsa (6) membalik halaman demi halaman buku bergambar kartun "Thumbelina". Deru kendaraan yang tak berjeda dari Pasupati tak memengaruhinya. Bersimpuh di taman berlapis paving block yang dialasi tikar, dia menamatkan buku dongeng bergambar warna-warni itu. Belum sempurna dia menutup halaman terakhirnya, matanya terperangkap pada tumpukan buku di sampingnya. Barbie judul buku itu. Boneka-boneka cantik itu berpose di sampul depannya.

"Ini favoritku," katanya sambil menyambar buku itu.

Bagi anak-anak yang tinggal di sekitar Pasupati, kolong jalan layang itu menjadi arena bermain. Mau di mana lagi, tak ada halaman yang leluasa. Namun, anak-anak tak pernah kehilangan keceriaannya.

Sore hari akhir pekan lalu, anak-anak tidak bermain seperti biasanya. Mereka disuguhi beragam buku bacaan. Anak-anak bisa membaca sepuasnya di sana. Bergantian dengan teman-temannya yang lain. Tidak hanya membaca, mereka juga dibagi buku tulis.

Adalah Adjo Akasia dan teman-temannya dari Komunitas Taman Kota yang memboyong buku-buku itu ke sana. Sudah beberapa kali dia menggelar kegiatan untuk anak-anak di kolong jalan layang Pasupati. Tidak sekadar membaca, sebelumnya dia pun menggelar pemutaran film anak dan berbagai permainan untuk anak. Mereka "mendirikan" Sekolah Taman. Meskipun namanya Sekolah Taman, jangan dibayangkan seperti sekolah-sekolah pada umumnya yang muridnya harus berseragam dan bersepatu serta menggendong tas dan buku.

Anak-anak itu diajak berkegiatan di taman kota yang selama ini didengung-dengungkan sebagai ruang publik. Kegiatannya bisa macam-macam, mulai dari membaca buku sampai membuat berbagai keterampilan.

"Ini menjadi salah satu fungsi interaksi. Buku itu hanya alat bagi anak-anak untuk saling berinteraksi," kata Adjo.

Sejak dua tahun lalu, dia bersama teman-temannya giat memberdayakan taman kota melalui berbagai kegiatan, antara lain di Taman Centrum, Cempaka, Ganesha, dan Cilaki. Dia juga sedang mempersiapkan kegiatan di Taman Sukajadi, Panatayudha, dan Taman Maluku.

Meskipun Kota Bandung memiliki 604 taman --240 di antaranya dikelola Pemkot Bandung-- pada kenyataannya taman-taman itu hanya menjadi dekorasi kota. Bukan menjadi tempat bagi masyarakat meluangkan waktu, taman justru telanjur dicap sebagai tempat bersarangnya gelandangandan wanita tunasusila.

Selanjutnya, pemerintah justru memasang pagar tinggi dan mengunci pagarnya untuk menjaga agar taman kota tak disalahgunakan. Barangkali ini cara ampuh "membersihkan" taman. Namun, dengan cara itu pemerintah sudah membuat jarak antara taman dan masyarakat.

"Sedih sekali Taman Maluku dikunci. Pernah kami akan berkegiatan di sana, tetapi pintunya terkunci. Jadi tidak bisa masuk," tutur Adjo.

Suatu kali usahanya untuk masuk pernah berhasil karena pagarnya sudah ada yang dibongkar. Entah siapa yang membongkarnya.

Kalau memang memasang pagar itu menjadi cara terbaik, Adjo bisa menerimanya. Setidaknya dengan cara itu masyarakat yang berada di sana bisa aman. Akan tetapi, pemerintah harus memberitahukan cara bagaimana masyarakat bisa membuka pagar itu, sehingga suatu saat masyarakat bisa memanfaatkannya.

"Beri tahu bagaimana prosedurnya supaya bisa menggunakan taman itu. Kalau dengan prosedur itu pun tidak bisa, ya jangan salahkan kalau nanti dibuka paksa," ujar Adjo.

Dia mengatakan, taman kota seharusnya tak hanya indah dipandang tetapi juga memiliki fungsi sebagai ruang publik. Di sanalah seharusnya masyarakat bisa saling bertemu dengan nyaman, bertukar ide dan gagasan serta melahirkan berbagai kreativitas. Taman juga bisa menjadi tempat rekreasi yang murah.

Dibandingkan dengan Bandung, Kota Surabaya mempunyai sedikit taman. Hanya ada enam belas taman kota. Namun, kini predikat sebagai kota taman lebih sering disematkan pada kota itu. Taman-tamannya ditata cantik. Tak hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk orang dewasa dan para orang tua. Penyandang cacat pun diberi akses. Pada malam hari, lampu-lampunya menyala terang sehingga tetap bisa dinikmati. Tidak hanya untuk bermain, warga juga bisa berolah raga di taman. Anak mudanya tidak sungkan menghabiskan waktunya di taman. Ada yang membaca buku, atau berselancar di dunia maya menggunakan fasilitas wi-fi. Aktivitas itu dengan sendirinya menjauhkan taman dari kegiatan negatif.

"Di Bandung, mengapa kita tidak buat percontohan yang menggandeng masyarakat," ujar Adjo.

Terakhir, Pemkot Bandung memagari Alun-alun Kota Bandung. Alun-alun yang merupakan pusat berkumpulnya masyarakat itu kini dikelilingi besi. Alasannya masih sama.

"Diberi kebebasan, rusak. Lebih enak dipagari. Dikunci itu untuk pengamanan. Dipagar karena rusak. Seperti di Masjid Raya itu, seenaknya wanita tunasusila melakukan kegiatan seperti di Saritem. Itu kan ngeri," kata Wali Kota Bandung Dada Rosada.

Dia mengatakan, pagar itu tetap menjadi alat pengaman sampai kesadaran masyarakat tumbuh.

Adjo mengatakan, masyarakat sudah mulai bergerak untuk memanfaatkan taman. Seperti yang dilakukan Komunitas Taman Kota. Dengan koceknya sendiri mereka punya keyakinan mampu menghidupkan kembali taman-taman di Kota Bandung.

"Kami tidak minta apa pun, Kami hanya minta akses," ujarnya. (Catur Ratna Wulandari/"PR")

Foto: Pikiran Rakyat.

***


Anak-anak sangat kekurangan ruang publik. Padahal, fitrah mereka dalam belajar adalah sambil bermain. Apakah sekedar akses ke ruang publik untuk belajar, sulit dipenuhi, Pak Walikota?
Post a Comment