Showing posts with label metodologi. Show all posts
Showing posts with label metodologi. Show all posts

09 November, 2011

[KPKB] STOP MOBILISASI SISWA!

Perkara memobilisasi siswa untuk kepentingan yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan kependidikan, entah kenapa Diknas Kota Bandung ini cukup getol. Saat kontroversi tentang Voting SMS Komodo justru mencuat, sekolah-sekolah di Bandung pernah dimobilisasi untuk mengirim SMS bersama. Apa pula kepentingan sekolah sampai dimobilisasi untuk acara idol-idolan yang sedang dipertanyakan itu?

Kali ini, menjelang Sea Games ke-26 yang akan dibuka di Stadio Jakabaring, Palembang. Dengan alasan Pendidikan Karakter Bangsa dalam bentuk dukungan pada kegiatan Sea Games 2011 ini, Dinas Pendidikan Kota Bandung menerbitkan surat edaran untuk sekolah agar memobilisasi guru dan siswa-siswanya pada tanggal 13 dan 14 November yang akan datang untuk meramaikan Eksibisi "Tarung Derajat" di Senayan. Tarung Derajat ini memang beladiri yang muncul di Bandung, dulunya bernama 'AA Boxer'. Pada Sea Games 2011 ini Tarung Derajat mulai diperkenalkan dalam bentuk eksibisi (pertunjukan), belum baru memperebutkan 6 medali emas.



Dalam surat eradaran tersebut, jelas disebutkan sekolah-sekolah mana saja yang diperintahkan untuk berangkat ke Senayan. Pertanyaan pertama, apa kaitannya Sea Games dengan Pendidikan Karakter Bangsa hingga harus hadir langsung ke Senayan? Pertanyaan kedua, darimana sumber dana pemberangkatan ini? Apakah karena ini dianggap sebagai bagian dari kegiatan belajar tentang Kepribadian Karakter Bangsa, lalu menggunakan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah)?

Hingga tulisan ini dibuat, sedang dipertanyakan kejelasan berita ini. Perwakilan Forum Orangtua Siswa (FORTUSIS) Bandung sudah membuat pernyataan di beberapa media di Bandung, dan mungkin hari ini akan terbit laporannya.

UPDATE: Fortusis Protes Edaran ke Sekolah

BLK. FACTORY,(GM) - Forum Orangtua Siswa (Fortusis) Kota Bandung memprotes keras edaran ke tiap sekolah yang berisi permintaan untuk mengirimkan guru dan siswa sebanyak 50 orang guna untuk mendukung pertandingan ekshibisi tarung derajat pada SEA Games XXVI di Jakarta. Protes itu disampaikan Ketua Fortusis Kota Bandung, Wanto Subawanto yang dihubungi "GM" via telepon selulernya, Selasa (8/11). 
"Jelas kami protes keras, jika dukungan itu menjadi suatu kewajiban bagi para siswa di SMP, SMA, dan SMK negeri di Kota Bandung," tandasnya. 
Wanto mensinyalir, permintaan ini merupakan keinginan pejabat eksekutif maupun yudikatif yang duduk sebagai pengurus cabang olahraga tersebut. "Tapi kenapa kewajiban mendukung dan menonton ini ditimpakan pada siswa dan guru?" ujarnya. 
Menurut Wanto, sebaiknya dukungan tidak diwajibkan atau lebih baik alami saja.
Selain itu, Wanto menilai, anggaran yang digunakan untuk mengirim siswa dan guru ke Jakarta ini berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS) untuk SMA dan SMK, serta Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk SMP.  
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Oji Mahroji membantah jika pengiriman siswa tersebut wajib. "Hanya imbauan," ucapnya singkat.  
Tidak jauh berbeda dengan yang dikatakan Kepala SMA Negeri 22 Bandung, Ajat Sudrajat, yang juga Ketua MKKS SMA Kota Bandung. (B.81)**


Dari sisi implementasi Pendidikan Akhlak Mulia dan Karakter Bangsa, instruksi Presiden yang menjadi landasan gagasan ini hanya menyebut "pengembangan metodologi", yang hingga kini masih menjadi pertanyaan besar di kalangan guru sendiri. Bagaimana implementasi karakter bangsa dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)? Kalau kemudian gagasan memobilisasi ini dilabeli dengan Pendidikan Karakter Bangsa, apa tidak salah arah ini pendidikan kita? Ada kepentingan apa sebenarnya di balik mobilisasi ini?

Kalau masih ingat dengan kewajiban siswa menonton film G30S/PKI di jaman orde baru, kebiasaan memobilisasi seperti ini ternyata masih jadi pilihan. Pendidikan macam apa yang berisi indoktrinasi? Pendidikan seharusnya membebaskan, memberi pilihan terbuka kepada generasi muda untuk menjadi lebih baik. Bukan lahan perebutan kepentingan politik yang cenderung menjadi pembodohan bagi siswa.

UPDATE:

Ini adalah Panduan Program BOS. Jika kegiatan ini menggunakan dana BOS, pada kategori apakah? Coba perhatikan di halaman 21, pada pasal Larangan Penggunaan Dana BOS, terutama pada butir c:

Larangan Penggunaan Dana BOS
a. Disimpan dalam jangka waktu lama dengan maksud dibungakan.
b. Dipinjamkan kepada pihak lain.
c. Membiayai kegiatan yang tidak menjadi prioritas sekolah dan memerlukan biayabesar, misalnya studi banding, studi tour (karya wisata) dan sejenisnya.
d. Membayar bonus dan transportasi rutin untuk guru.
e. Membeli pakaian/seragam bagi guru/siswa untuk kepentingan pribadi (bukan inventaris sekolah).
f. Digunakan untuk rehabilitasi sedang dan berat.
g. Membangun gedung/ruangan baru.
h. Membeli bahan/peralatan yang tidak mendukung proses pembelajaran.
i. Menanamkan saham.
j. Membiayai kegiatan yang telah dibiayai dari sumber dana pemerintah pusat atau pemerintah daerah secara penuh/secara wajar, misalnya guru kontrak/guru bantu.

Panduan Program Bos

31 October, 2011

Peta Konsep, atau Mind Map?

Di beberapa buku pegangan siswa untuk berbagai mata pelajaran, bisa ditemukan istilah Peta Konsep yang berupaya menggambarkan hubungan antar pokok bahasan dalam buku tersebut. Tetapi seringkali peta tersebut tidak menyerupai Peta Konsep yang sebenarnya. Misalnya contoh Peta Konsep dari buku Galeri Pengetahuan Sosial Terpadu untuk SMP/MTs kelas VIII yang diunduh dari web kementrian ini:

Peta ini tidak bisa disebut sebagai peta konsep (Concept Map), karena penjelasan hubungan antar konsepnya tidak lengkap, dan tidak ada pertanyaan utama yang membatasi konsepnya. Konsep yang dipasang pada bagian hulu peta ini, terdiri dari beberapa konsep yang tidak diuraikan terlebih dahulu. Lalu gambar apa sebenarnya yang dimaksud oleh buku tersebut di atas? Apa sebenarnya Peta Konsep?

Secara umum, konsep adalah abstraksi pemahaman terhadap sesuatu, bisa berbentuk "Obyek" atau "Peristiwa". Semakin umum sebuah konsep, maka pemahamannya bisa semakin umum pula, dan perbedaan akan muncul dari spesifikasi tertentu. Misalnya, kata "Mobil" adalah konsep umum untuk kendaraan yang menggunakan mesin, dan memiliki roda lebih dari dua. Bus dan Sedan, keduanya adalah mobil, meskipun memiliki perbedaan jumlah roda, keduanya sama-sama memiliki lebih dari dua roda.

Sedangkan Peta Konsep, dijelaskan penemunya - Novak pada tahun 1985 - sebagai "Graphical tools for organizing and representing knowledge. They include concepts, usually enclosed in circles or boxes of some type, and relationships between concepts indicated by a connecting line linking two concepts. Words on the line, referred to as linking words or linking phrases, specify the relationship between the two concepts." - Novak (2005).

Jika kita terjemahkan secara bebas, maka Peta Konsep adalah piranti visual untuk mengorganisir dan merepresentasikan pengetahuan. Di dalamnya terdapat konsep-konsep, yang dihubungkan dengan kata/kata-kata penghubung yang jelas. Dua konsep hanya bisa dihubungkan oleh satu kata/kata-kata penghubung. Susunan hubungan antar konsep bisa disusun berdasarkan yang umum, hingga yang khusus secara hirarkis.

Peta konsep digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antar konsep-konsep yang terbentuk menjadi proposisi. Seseorang hanya bisa mengembangkan Peta Konsep jika pemahaman terhadap konsep-konsep yang akan dipetakan sudah benar. Pemahaman yang kurang tepat mengenai sebuah konsep, akan menyebabkan peta yang tidak logis, sehingga sulit dipahami. Proposisi yang muncul menjadi tidak jelas, sehingga Ia harus bisa memahami konsep yang umum, dan yang kurang umum, untuk bisa membuat struktur pengetahuan yang jelas.

Peta Pikiran (Mind Map™) adalah peta yang dikembangkan oleh Tony Buzan. Peta Pikiran lebih bersifat individu, dan tidak memiliki kaitan yang ketat di antara hubungan antar elemennya. Si pembuat peta boleh menggunakan kategori sesuai yang diinginkan, dan membuat hubungan yang hirarkis sesuai kategori yang sama. Gambar yang diambil dari buku di atas, lebih mirip dengan Peta Pikiran daripada Peta Konsep.

Mengapa Peta Konsep Penting?

Peta konsep sebenarnya secara alamiah dikembangkan oleh anak ketika mempelajari tentang dunia barunya. Ia membuat generalisasi, mengembangkan konsep tentang suatu peristiwa atau obyek, berdasarkan pengalamannya. Misalnya, ketika mendengar mobil datang dan suara derunya, anak-anak menyebut mobil dengan nama "Bumbum". Ketika suara tersebut diikuti dengan Ayah yang pulang kerja, ia mengembangkan konsepnya. Konsep "Bumbum", kini artinya adalah mobil datang, dan Ayah pulang. Jika tamu datang dengan suara deru mobil yang sama, ia tetap akan menunggu kedatangan si Ayah. Ketika muncul anomali, ia akan memperbaiki konsepnya. Dan seterusnya.

Sekolah, atau pendidikan dasar pada umumnya, harus memperkenalkan konsep-konsep dasar dari setiap pengetahuan yang diberikan. Konsep-konsep dasar ini relatif sudah ada sebelumnya, karena ilmu pengetahuan yang mendasar bisa dikatakan telah selesai ditemukan oleh para pemikir sejak dulu. Konsep-konsep tersebut sudah menjadi teori yang tertulis atau terdokumentasikan dalam buku-buku atau literatur yang relevan.

Guru atau pendidik harus membedakan mana obyek dan peristiwa dari suatu konsep, juga membedakan obyek atau peristiwa yang lebih detil sebagai turunan konsepnya. Dengan mengenal konsep, peserta belajar akan mudah mengenali variasi detil dari konsep tersebut, sehingga memudahkannya mengkategorisasi pengetahuan. Ia tidak perlu menghafalkan, cukup dengan memahami konsep di belakang pengetahuan tersebut.

Contoh Peta Konsep di atas, yang diambil dari buku Galeri Pengetahuan Sosial Terpadu, cukup berbahaya karena petanya tidak sesuai dengan struktur Peta Konsep. Kondisi Fisik Wilayah Indonesia dan Penduduk, adalah dua konsep yang berbeda, dan tidak bisa disatukan sebagai awal pemetaan konsep. Pertanyaan utama untuk peta ini juga tidak jelas, sehingga tidak ada pembatasan konteks dalam peta tersebut.

Anda dapat mencoba membuat Peta Konsep sendiri dengan bantuan piranti lunak gratis dari situs http://cmap.ihmc.us.

21 July, 2011

Pemda Intervensi Guru dan Kepala Sekolah

Dari: www.tribunnews.com 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala daerah di Indonesia seperti bupati dan walikota sudah mulai turut campur dalam pelaksanaan pendidikan. Mereka terus melakukan intervensinya kepada para pejabat dinas, bahkan kepada para pendidik seperti guru dan kepala sekolah.

Menurut Sekjen Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), Iwan Hermawan, kejadian tersebut ditemukan di daerah Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Ia mengatakan aparat daerah dari yang atas hingga guru saling menekan.

"Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) itu terkait akreditasi sekolah dan kredibilitas kepala sekolah. Kalau UN gagal kepala sekolah dimutasi, sekolah turun nama baiknya, makanya kepala sekolah terus menekan guru agar baik, kepala sekolah juga ditekan kepala dinas, kepala dinas ditekan oleh Bupati atau Walikota dan walikota ditekan Gubernur," ujar Iwan saat acara diskusi Polemik di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (18/6/2011).

Dengan demikian Iwan menjelaskan sudah cukuplah pelaksanaan Ujian Nasional (UN) jika hanya menimbulkan masalah. Ujian Nasional (UN) lanjut Iwan hanya dipergunakan untuk berbagai macam kepentingan yang ada seperti misalnya, pemetaan mutu program satuan pendidikan, dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, penentuan kelulusan peserta didik dari program atau satuan pendidikan, salah satu penentu penilaian kerja guru, penentu kinerja kepala sekolah.

Terakhir, penentuan akreditasi sekolah dan indikator keberhasilan pendidikan di Kota atau Kabupaten.

Sementara itu menurut Peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi UGM, Oce Madril mengatakan sistem yang ada tersebut harus dipotong. Peran masyarakat secara luas dan pemerintah serta DPR juga sangat dibutuhkan.

"Saya kira peran ini bisa dilakukan siapapun, agar sama-sama bertanggung jawab mengatasi kebobrokan ini, peran serta masyarakat harus diendorce, tanggung jawab hukum dan politik membenahi sistem ada di pemerintah, dan di parlemen," pungkasnya.

24 February, 2011

TUGAS Seorang Revolusioner Adalah Membuat Revolusi

Tulisan ini artikel lama di Harian Kompas, yang sejatinya adalah resensi buku. Seperti yang Anda lihat di pengantar artikel, ada penjelasan mengenai buku yang dimaksud. Melihat situasi saat ini di Indonesia, rasanya tulisan 10 tahun lalu ini, atau isi buku Freire yang sudah hampir 30-an tahun yang lalu. Silakan menyimak!

Surat-surat Pedagogis Paulo Freire
Judul: Pendidikan sebagai Proses Surat-menyurat Pedagogis dengan Para Pendidik Guinea-Bissau, Penulis: Paulo Freire, Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cetakan Pertama, tahun 2000, Tebal: (xiv + 269) halaman.

"TUGAS seorang revolusioner adalah membuat revolusi", demikian kata Fidel Castro. Maka sebagai seorang revolusioner, ketika diasingkan di Jenewa, Freire menolak tawaran bekerja pada masyarakat San Francisco atau New Delhi yang liberal. Ia justru memilih duduk di belakang meja, berpikir dan menulis dengan kata-katanya yang turut mendorong revolusi kemerdekaan di negara-negara Afrika.

Salah satu dari negara baru tersebut adalah Guinea-Bissau yang lepas dari penjajahan Portugal. Para pemimpin negeri itu kemudian mencanangkan program rekonstruksi nasional, yaitu upaya membangun kembali Guinea-Bissau dalam menyongsong kehidupan baru yang makmur, damai, adil, dan demokratis. Mereka memandang bahwa pendidikan menempati posisi yang sangat penting dalam mendorong proses rekonstruksi nasional itu.

Dalam kerangka ini, para pemuka Guinea-Bissau kemudian meminta Freire untuk membantu membangun kembali dunia pendidikan. Tugas khusus Freire adalah pada pendidikan melek huruf bagi orang dewasa.

Mereka mengundang Freire karena kagum atas konsep-konsep pendidikan Freire yang revolusioner dan telah menimbulkan perubahan sosial yang cukup berarti ketika diterapkan di Brasil dan Cile. Freire menerima tawaran itu karena sesuai dengan keberpihakannya selama ini pada upaya pembebasan kaum
tertindas.

Dalam menjalankan tugasnya, Freire berangkat dari pandangan bahwa pendidikan tidak boleh lepas dari lingkungan sosialnya. Para pendidik harus berasal dari "dalam" sistem dan lingkungannya.
Pendidik yang berasal dari "luar" sistem harus "dibunuh" lalu "dilahirkan" kembali dengan kesadaran baru. Sehingga hubungan pendidik-peserta didik bersifat kolaborasi (collaboration) bukan invasi
kultural (cultural invasion).

Untuk itu, Freire harus mengetahui keadaan sebenarnya negeri itu. Selain menggali dari berbagai tulisan, ia melakukan observasi lapangan, bergumul dengan masyarakat setempat untuk melihat, mendengar, berdiskusi, dan bertanya.

Dalam rangka ini pula, ketika berada di Jenewa, Freire banyak berdiskusi lewat surat dengan Komisioner Negara untuk Pendidikan Republik Guinea-Bissau, Ir Mario Cabral serta beberapa anggota
timnya.

***

BUKU ini merupakan kumpulan surat-surat pedagogis tersebut yang berjumlah 17 buah. Freire kemudian melengkapinya dengan pendahuluan dan catatan akhir yang menjelaskan latar belakang
serta pokok-pokok pemikiran pendidikan yang ia tulis dalam surat itu.

Dari penelusurannya, Freire menemukan bahwa 90 persen rakyat Guinea-Bissau buta huruf. Tetapi, mereka mempunyai kesadaran politik yang tinggi. Mereka antusias mendukung kemerdekaan, revolusi, dan proses rekonstruksi nasional.

Di sisi lain, Freire menemukan bahwa pendidikan warisan penjajah Portugal efektif menjadi sarana dominasi ideologi penjajah, sekaligus proses de-africanisasi. Out put-nya adalah rakyat akan menjadi
inferior, merasa hanya bisa hidup jika menjadi "putih" atau tetap "hitam" tetapi berjiwa "putih".

Pendidikan ala penjajah ini juga menyosialisasikan bahwa kedatangan Portugal bermaksud untuk memberadabkan dan membudayakan Guinea-Bissau. Penjajah itu menekankan bahwa
peradaban dan kebudayaan Portugal jauh lebih tinggi, karenanya layak untuk diikuti (hlm 16).

Dalam keadaan seperti itu, menurut Freire, pendidikan harus ikut mendukung revolusi dan rekonstruksi nasional. Out put yang dihasilkannya harus berupa rasa kebersamaan, solidaritas, tanggung jawab sosial serta kepedulian untuk menegakkan kehidupan yang lebih baik.

Implikasinya, pendidikan warisan penjajah harus ditolak. Bahkan, dalam surat yang ketiga, Freire menekankan perlunya upaya de-portugalisasi menuju re-africanisasi mentalitas masyarakat (hlm 113). Pendidikan harus menegaskan bahwa Guinea-Bissau adalah entitas bangsa yang mandiri, merdeka, dengan kebudayaan dan peradaban yang bermartabat sama, sejajar dengan Portugal dan bangsa lain di dunia; yang bisa hidup, beradab dan berbudaya tanpa harus meniru Portugal.

Paradigma pendidikan seperti ini pula yang diderivasi Freire dalam praktik pendidikan melek huruf. Sebagaimana ia katakan dalam suratnya yang pertama (hlm 99-102), pendidikan melek huruf tidak boleh direduksi sekadar masalah teknis mendepositokan kata-kata tak bermakna ke dalam diri siswa.

Pendidikan melek huruf harus dimaknai sebagai aksi budaya dalam rangka proses pembebasan. Sebagai aksi budaya, tidak boleh terpisah dari aspek kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.

Dalam suratnya yang kelimabelas dan tujuhbelas, Freire menjelaskan, pada mulanya, para peserta terlebih dulu diajak berdiskusi tentang persoalan keseharian mereka; revolusi, rekonstruksi nasional, peningkatan produksi pangan, dan sebagainya. Mereka diajak mendata persoalan, menganalisis, memetakan, dan kemudian menyelesaikannya.

Dari situ mereka akan menyadari bahwa dengan melek huruf mereka akan lebih mampu menyelesaikan persoalan dan lebih berarti dalam mendukung rekonstruksi nasional. Selanjutnya, keikutsertaan mereka dalam pendidikan melek huruf, benar-benar atas kesadaran dan kebutuhan diri sendiri.

Diskusi ini kemudian dilanjutkan dengan belajar membaca. Kata yang dipelajari dipilih kata generatif dari realitas sebagaimana yang didiskusikan. Peserta belajar membaca teks, sekaligus juga "membaca" realitas yang dikandung oleh teks itu. Belajar membaca konteks teoritis sekaligus menghubungkannya dalam konteks nyata. Dalam metode ini, yang ditekankan bukanlah transfer pengetahuan, tetapi penguasaan peserta atas metode pengetahuan. Peserta tidak hanya akan mendapatkan pengetahuan, tetapi mampu menciptakan/mencari pengetahuan sendiri, ketika ia menghadapi obyek yang berbeda. Peserta akan menjadi berdaya, kritis, dan tanggap dalam menghadapi dinamika perubahan.

***

DARI segi ide, apa yang diungkapkan buku ini, sebenarnya telah banyak diungkap dalam buku-buku Freire terdahulu seperti: Pendidikan Sebagai Praktik Pembebasan (Gramedia, 1984), Pendidikan Kaum Tertindas (LP3ES, 1985), Politik Pendidikan (Pustaka Pelajar, 1999).

Kelebihannya dibanding buku-buku itu, buku ini ibarat rekaman langsung proses kreativitas Freire ketika menerjemahkan ide-ide pendidikannya ke dalam realitas Guinea-Bissau. Freire tidak mentransplantasikan begitu saja pengalamannya di Brasil dan Chili, tetapi mencipta ulang (re-invented) pengalaman itu sesuai kondisi Guinea-Bissau.

Proses penciptaan ulang itu sekaligus pelajaran menarik bagi pembaca, bagaimana menerapkan ide-ide pendidikan Freire ke dalam lingkungannya masing-masing. Bentuk tulisannya yang berupa surat, juga lebih mampu "menampilkan" sosok Freire sebagai seorang yang humanis, gentle, penuh cinta dan kasih sayang, serta dikenal dekat dan hangat kepada teman-temannya dan anak-anak.

Kesan itu bisa menempatkan posisi Freire lebih proporsional. Sebab, bisa jadi, karena terkesan ide-ide Freire amat revolusioner tentunya si pencetus itu sangar dan menakutkan. Di tengah maraknya perbincangan tentang persoalan dunia pendidikan di Tanah Air saat ini, ide-ide Freire yang bertumpu pada paradigma pembebasan, pemberdayaan, dan pembudayaan tersebut layak dijadikan bahan renungan. Apalagi, paradigma seperti itulah yang nyaris hilang dalam sistem pendidikan kita.

* Arwani Kohlejo, pendidik swasta, alumnus IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta.

Sumber: http://kompas.com/kompas-cetak/0012/11/DIKBUD/sura34.htm | Senin, 11 Desember 2000 [deadlink]

21 December, 2010

Pendidikan Desain sebagai Modal Perubahan Sosial




Ini adalah sebuah gagasan mengenai bagaimana desain bisa mempengaruhi peningkatan kualitas hidup manusia, dalam hal ini pendidikan. Dilakukan oleh Emily Pilloton dkk., sarjana desain ini memulai dengan gagasan membuat desain-desain yang efektif, dan bermakna bagi kehidupan. Bermukimlah mereka di sebuah kota, di salah satu negara bagian Amerika yang miskin, Bertie County, di Carolina Utara. Mereka mencoba mengajari anak-anak sekolah tentang desain, berpikir dan bereksperimen untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi sehari-hari.

Kota itu hanya dihuni kurang lebih 10 orang per kilometer persegi. Seperti yang terjadi di beberapa kota kecil dan miskin lainnya, kota itu tidak menawarkan apa-apa, sehingga banyak penduduk yang berpendidikan, pergi mencari pekerjaan di tempat lain, dan tak pernah kembali. Kota-kota seperti ini juga sulit berkembang banyak yang enggan berinvestasi di sana. Sementara banyaknya bantuan melalui kegiatan filantropis, lebih banyak menyentuh penduduk kota besar daripada di kota kecil , atau lebih mirip dengan desa, seperti Bertie County. Diperkirakan hanya 6.8 persen dana filantropis yang mengalir ke wilayah perdesaan, padahal kurang lebih 20% penduduk AS tinggal di desa-desa seperti ini.

Tidak hanya layak disebut perdesaan, Bertie County juga sangat miskin, bahkan terhitung yang paling miskin se Amerika Serikat. Perekonomiannya tergantung pada pertanian, terutama pada komoditi kapas dan tembakau, dan produk utamanya, kacang. Jumlah penduduknya kurang lebih hanya 2000 jiwa. Di kota ini lebih banyak bangunan kosong dan tak terawat daripada yang ditinggali, tidak ada kedai kopi, tak ada warnet, tak ada bioskop, bahkan tak ada toko buku di sana. Anda pun tak akan menjumpai Wall Mart di sana.

Enam puluh persen penduduknya adalah warga berkulit hitam. Dan hampir semuanya mengisi sekolah-sekolah negeri, karena para warga berkulit putih akan memilih sekolah swasta yang lebih baik. 86 persen siswa sekolah negeri adalah warga kulit hitam. Kualitas sekolah negeri ini sangat memperihatinkan. Kekurangan sumberdaya manusia hingga sangat sulit menemukan guru yang bagus. Dua tahun yang lalu, sekitar tahun 2008, hanya 27 persen siswa kelas tiga hingga kelas 8 yang bisa lulus standar nasional untuk Bahasa Inggris dan Matematika.

Pada awalnya, Emily bersama rekannya merasa ada sesuatu yang salah dengan Project H. Project H adalah lembaga nirlaba yang didirikannya untuk mengerjakan desain-desain demi kemanusiaan. Sebagai desainer muda yang sangat bersemangat untuk membantu, pada awalnya mereka bereksperimen sendiri di antara mereka. Mereka lupa, bahwa bahwa bukan sekedar produk desain yang membantu menyelesaikan masalah di daerah itu, melainkan sesuatu yang lebih 'partisipatif'. Mereka masih berpikir seperti konsultan, menerima brief, dan menelurkan solusi. Tetapi mereka kemudian belajar sesuatu dari kesalahan itu.

We have made the mistake of being disconnected from the people and places for which we design. The Hippo Roller re-design project was in many ways the biggest error we have made as an organization. Our first project, we undertook the re-design of the water transport device produced and distributed in South Africa, quite simply, because we were a newly-formed organization excited to get started. 
We had yet to see the value of local work, and were drawn to the simplicity of a device that so clearly has the potential to improve life. In hindsight, the process of redesigning the Hippo Roller was misguided and disconnected because of its lack of direct collaboration with end users, and a minimal shared investment in its success. While the resulting redesigned Hippo Roller is effective, we realized that the process was not. At the conclusion of the project, we put a stake in the ground to only take on projects that are local (that is, where the designer and partner/client are in the same location and call that place home). 

Berangkat dari pengalaman inilah, maka Project H kemudian lebih mementingkan proses yang melibatkan partisipasi warga lokal sebagai inti dari kegiatannya. Mereka pun berkesimpulan, hanya melalui pelibatan warga lokal, maka humanitarian design - istilah bagi kerja-kerja desain untuk kemanusiaan - akan benar-benar berdampak. Di titik inilah perubahan sosial itu bisa terjadi karena desain, bukan sekedar menawarkan jasanya secara 'cuma-cuma', tetapi menularkan cara berpikir desain yang mendorong lahirnya kreatifitas sebagai modal sosial.

"I may not be born and bred in Bertie County, North Carolina, but I call it home. I go to the post office and ask Tisha about how her weekend pig-picking went. I go to Bunn's Barbecue for lunch and ask Randy, the owner, if he wants to come over for a beer on the porch this weekend. I get defensive when people make fun of the fact that Bertie County doesn't even have a Walmart. And every day, I'm feeling more attached to my students, their families, and the networks of people that make up their collective education system". - Emily Pilloton

Apa yang dilakukannya bersama Project H adalah memperkenalkan desain sebagai cara berpikir dan menggunakannya sebagai upaya pemecahan masalah. Wilayah yang sangat miskin potensi kreatif ini, diperkenalkan dengan tingkat kreatifitas yang membumi. Mulai dari mengimajinasikan gagasan melalui kegiatan curah pendapat, membelajarkan desain kepada 13 anak-anak di sekolah tersebut, hingga membuatnya jadi nyata. Ini kutipannya dari presentasi di TED.com:

What design and building really offers to public education is a different kind of classroom. So this building downtown, which may very well become the site of our future farmers' market, is now the classroom. And going out into the community and interviewing your neighbors about what kind of food they buy and from where and why, that's a homework assignment. And the ribbon cutting ceremony at the end of the summer when they have built the farmers' market and it's open to the public, that's the final exam. And for the community, what design and building offers is real, visible, built progress. It's one project per year. And it makes the youth the biggest asset and the biggest untapped resource in imagining a new future.
Ultimately, design itself is a process of constant education for the people that we work with and for and for us as designers. And let's face it, designers, we need to reinvent ourselves. We need to re-educate ourselves around the things that matter, we need to work outside of our comfort zones more, and we need to be better citizens in our own backyard. So while this is a very small story, we hope that it represents a step in the right direction for the future of rural communities and for the future of public education and hopefully also for the future of design.

Yup. Desain tidak hanya bisa menjadikan penghayatnya seorang konsultan berharga mahal dan sangat eksklusif. Desain juga bisa berperan dalam membangun sumberdaya manusia, karena berpikir a la desainer pada dasarnya dimiliki setiap orang. Setiap kali kita bangun tidur, merapikan tempat tidur, menata ulang barang-barang di ruangan, kita sedang mendesain. Kali ini, berpikir a la desain digunakan untuk melakukan perubahan sosial, melalui pendidikan.

17 December, 2010

Gaya Belajar, dan Daur Belajar

David Kolb, salah satu dari sejumlah ahli di bidang ini, mengemukakan empat jenis gaya belajar (Learning Style) . Gaya belajar yang dimaksud adalah cara belajar yang menjadi kebiasaan, dan menjadi cara paling nyaman bagi orang dewasa tersebut untuk mempelajari sesuatu.


Kolb membangun konsep itu berdasarkan asumsi bahwa di dalam kegiatan belajar orang melibatkan empat aspek yaitu pikiran (konseptualisasi abstrak – abstract conceptualization); perasaan (pengalaman konkrit – concrete experience); pengamatan (observasi reflektif – reflective observation); dan perbuatan (eksperimentasi aktif – active experimentation). Setiap individu menurut Kolb hanya mempunyai kecenderungan mengkombinasikan dua aspek, dan sebab itu muncullah empat jenis gaya belajar yakni: The accommodator, The assimilator, The diverger, dan The converger.

The Accommodator, perpaduan karakter eksperimentasi aktif dan pengalaman konkrit. Mereka yang kebiasaannya belajar dari pengalaman kongkrit, menurut Kolb, membuat penilaian atas dasar intuisi yang lahir dari pengalaman mereka salama ini, daripada berdasarkan teori. Buat mereka, teori dianggap terlalu abstrak, dan tidak relevan dengan kehidupan sehari-harinya. Mereka adalah orang yang berorientasi pada lingkungan sosial, lebih mempercayai kolega sebaya, daripada orang-orang yang dianggap “lebih mampu/pintar”. Mereka biasanya lebih mudah mengambil manfaat dari teman-teman sebaya dengan gaya belajar yang relatif sama.

The Diverger, perpaduan karakter pengalaman konkrit dan pengamatan reflektif. Pebelajar yang merasa nyaman dengan cara belajar pengamatan reflektif, lebih senang mendengarkan, dan cenderung lebih suka bereksperimen. Mereka biasanya lebih suka mengambil jarak terlebih dahulu sebelum membuat keputusan atau penilaian, Menurut Kolb, mereka ini cenderung introvert dalam situasi belajar, dibanding kolega sebayanya yang aktif, karena mereka ini cenderung mengamati, mendengarkan, dan belajar dari situasi tersebut.

The Assimilator, perpaduan karakter pengamatan reflektif dan konseptualisasi abstrak. Mereka yang nyaman dengan cara belajar melalui konseptualisasi, seringkali lebih menggunakan logika saja, dan cara pandangnya cenderung obyektif. Kolb menyatakan, bahwa mereka akan cenderung lebih memperhatikan sesuatu dibalik tema belajar, atau simbol-simbol dan tidak terlalu fokus pada kolega sebayanya. Mereka akan belajar lebih baik dari para figur yang dianggapnya paling layak untuk didengar.

The Converger, perpaduan karakter konseptualisasi abstrak dan eksperimentasi aktif. Seseorang yang aktif bereksperimentasi, atau seorang inovator, dapat belajar dengan baik dari pengalaman yang kongkrit. Mereka adalah juga orang-orang yang estrovert, tetapi tidak memandang setiap masalah dengan pendekatan yang khusus. Mereka akan mencoba mengembangkan hipotesis dan secara aktif mengujicobanya. Mereka ini adalah tipe yang membenci ceramah, dan berbagai bentuk pembelajaran pasif lainnya.

Gaya Belajar Model Kolb dimaksudkan khusus untuk orang dewasa, yang telah mengalami akumulasi pengalaman hidup dalam rangka pengembangan dirinya. Usia yang sudah puluhan tahun, adalah waktu untuk belajar dan menganut nilai. Berdasarkan gaya belajar ini, lalu muncul daur belajar untuk orang dewasa, yang sebenarnya juga berlaku untuk anak.  Kelemahannya, anak memiliki pengalaman hidup yang masih terbatas, sehingga harus dikondisikan sedemikian rupa.

Model Kolb menampilkan daur/siklus belajar (pandangan pembelajaran non-linier) yang mencakup empat proses; (1) Merasakan sendiri (mengalami), (2) Merefleksi, (3) Menggeneralisasi, (4) Mempraktekkan.

Kolb menunjukkan bahwa secara individual, warga belajar tidak mungkin menemukan diri mereka secara akurat pada empat gaya belajar di atas. Hal ini karena setiap orang belajar dengan kombinasi metode, berdasarkan keempat kategori. Namun, orang dapat dicirikan sebagai orang yang cenderung pada satu jenis cara belajar. Oleh karena itu, dalam kelompok apapun, ada kemungkinan orang merasa nyaman jika menggunakan beragam metode pembelajaran.

Dalam daur belajar ini, proses yang dilalui pebelajar dalam suatu proses disarankan mengikuti alur seperti daur, mulai dari merasakan sendiri, hingga kemudian mampu merencanakan kapan pengetahuan/keterampilan baru tersebut dapat digunakan/dipraktekkan. Meskipun ada 4 tahap pembelajaran dalam Learning Cycle atau Daur Belajar tersebut di atas, secara teoritis menurut Kolb proses pembelajarannya dapat dimulai dari mana saja, dan dapat berakhir di mana saja. Karena dalam pelatihan setiap orang memiliki gaya belajar yang unik, maka menggunakan keseluruhan tahapan dalam daur tujuannya maksudnya adalah mengakomodir berbagai perbedaan tersebut.

Tahapan mengalami, diharapkan membantu mereka yang berkarakter concrete experience, tahapan Merefleksi, mengakomodir warga belajar yang berkarakter reflective observation. Tahap Menggeneralisasi, akan membantu warga yang berkarakter abstract conseptualization agar bisa mengikuti proses pembelajaran. Dan tahap keempat, Mempraktekkan, mencoba meyakinkan warga belajar yang memang hanya bisa belajar dengan karakter active experimentation.

Idealnya, pembelajaran memang dapat dimulai dari tahap Mengalami. Kegiatan belajar harus dirancang sedemikian rupa, sehingga warga belajar akan melakukan sesuatu dan mendapatkan pengalaman kongkrit dari apa yang dilakukannya. Sebenarnya, bisa juga dengan cara menggali pengalaman warga belajar selama ini tentang suatu kasus. Misalnya, pengalaman naik sepeda, atau menonton televisi. Yang harus diperhatikan, jangan sampai peserta belajar merasa “bosan” atau diperlakukan secara berlebihan dengan proses yang memaksakan keempat tahapan belajar tersebut.

Setelah itu, warga belajar dapat diajak untuk merefleksikan, apa yang sudah dialami dalam kegiatan sebelumnya. Kegiatan ini yang dimaksud sebagai Merefleksi. Warga belajar diharapkan dapat mengidentifikasi apa saja yang dipelajarinya/dirasakannya, melalui proses seperti apa, dan apa kekuatan-kelemahannya. Setelah itu dapat dilanjutkan dengan mendiskusikan bagaimana meningkatkannya di masa depan. Dapat juga dilengkapi dengan proses pembahasan berbagai pengalaman dari masing-masing warga belajar, untuk memperkaya hasil pembelajaran.

Untuk warga belajar yang sudah berhasil merefleksikan apa yang dialami dalam pembelajarannya, beri kesempatan kepada peserta yang ingin merumuskannya dalam bentuk konsep atau teori. Inilah proses Konseptualisasi/Generalisasi (Abstract conceptualization).  Kegiatan belajar yang eksperimentatif, dengan mudah akan memberi peluang kepada warga belajar untuk menemukan 'teorinya' sendiri. Teori ini semakin mudah dibangun jika pengalamannya cukup kaya.

Tahap berikutnya, warga belajar yang sudah berhasil merumuskan dapat diberi kesempatan untuk mempraktekkannya sendiri, dalam bentuk Rencana Aksi (Active Experimentation), atau kalau memungkinkan dapat juga dilakukan pada saat kegiatan belajar berlangsung. Warga belajar pada tahap ini diharapkan mampu menerapkan apa yang sudah dipelajarinya untuk mengatasi/memecahkan persoalan yang biasa dihadapinya sehari-hari, baik di tempat kerja maupun dalam sistuasi yang lain.

Tahapan belajar ini bisa tidak berhenti, ketika praktek yang sudah dilakukan warga belajar direfleksikannya kembali, diteorikan kembali, dan seterusnya. Berdasarkan proses seperti ini, tahapan yang bisa dianggap penting adalah proses refleksi, karena dengan melakukan itu pengalaman kongkrit akan berguna sebagai proses belajar, bukan sekedar pengalaman hidup. Dengan kemampuan merefleksi, belajar sepanjang hayat bagi orang dewasa dapat terjadi di mana saja, tidak hanya di ruangan pelatihan.

P = Pengalaman di masa lalu, atau dihadirkan pada saat kegiatan belajar.
RA = Refleksi dan Analisa terhadap pengalaman
G = Generalisasi atau penyimpulan hasil analisa.
A = Aksi, atau proses mempraktekkan pengetahuan baru.

Siklus kegiatan belajar yang sepanjang hayat, dapat dilihat sebagai tahap, berdasarkan tujuan antara yang ingin dicapai sebelum mencapai tujuan belajar yang utama. Pengalaman yang dihadirkan pada tujuan antara yang pertama (P1), diproses melalui kegiatan Refleksi dan Analisa  (RA1), dan menghasilkan kesimpulan yang berupa pengetahuan baru (G1). Setelah dipraktekkan (A1), akan menghasilkan pengalaman yang baru/kedua (P2), dan seterusnya hingga memunculkan pengalaman akhir yang merupakan kemampuan yang diinginkan pada tujuan belajar.

29 October, 2010

Permainan untuk Anak di Lokasi Pengungsian

Permainan yang sangat dinamis ini membutuhkan kecepatan dan kelincahan gerak anak. Selain berupa permainan fisik, jika diteruskan diskusinya, dapat digunakan untuk membantu anak memahami pentingnya kebersihan/melawan kuman. Cara yang disarankan, adalah cara paling gampang, mencuci tangan.

Permainan ini pada dasarnya mirip dengan berbagai permainan tentang kucing-kucingan. Ada anak yang berperan sebagai "kucing", dan ada yang berperan sebagai "tikus" yang harus ditangkap. Kemudian dibutuhkan sekelompok anak yang membentuk lingkaran, dan membantu si "tikus" lolos dari terkaman "kucing".

Permainan diawali dengan adanya seorang anak yang menjadi Kuman dan seorang anak lainnya berperan sebagai Eka. Anak-anak lainnya berpegangan tangan, terentang membentuk lingkaran sebagai Air Sabun. Berbeda dari permainan Kucing & Tikus yang biasa, anak-anak yang membentuk lingkaran tidak boleh menghalangi Kuman mengejar Eka ke dalam lingkaran. Tugas Kuman adalah menangkap Eka, dan tugas Eka adalah menghindar dari Kuman. Eka dapat berlari ke dalam ataupun ke luar lingkaran.

Secara umum, aturan permainannya adalah sebagai berikut:
  1. Anak yang berperan sebagai Kuman harus menangkap anak lainnya yang berperan sebagai Eka. Eka boleh masuk ke dalam lingkaran, dan/atau memancing Kuman masuk ke dalam lingkaran.  Jika Kuman ikut masuk dan terjebak dalam lingkaran air sabun, Eka harus meneriakkan kata "GOSOK!", segera keluar dari lingkaran, dan para pemain yang menjadi lingkaran air sabun mulai berhitung hingga hitungan ke 20 sambil mengecilkan ruang gerak Kuman, memaksanya berada dalam lingkaran. Jika Kuman tidak berhasil meloloskan diri dari lingkaran dalam hitungan 20, maka Kuman akan kalah (Eka menang terhadap Kuman).
  2. Sebaliknya, jika Eka berada di luar lingkaran, Kuman dapat mulai berhitung hingga 20, sambil berusaha menangkap/menyentuh Eka. Jika Eka masih berada di luar lingkaran pada hitungan ke 20, dan belum tertangkap, Kuman dapat menambah jumlahnya dengan merekrut anak lain yang menjadi lingkaran. Eka akan menghadapi lebih banyak Kuman (karena tidak berhasil "menggosok" Kuman ke dalam lingkaran air sabun).
  3. Jika Eka tertangkap oleh Kuman (baik di luar atau di dalam lingkaran sebelum hitungan ke 20) maka peran mereka bertukar. Anak yang tadinya menjadi Eka (dikejar) berganti menjadi Kuman (mengejar) dan sebaliknya.
  4. Jika terdapat lebih dari satu Kuman ketika Eka tertangkap, maka Kuman yang berhasil menangkap Eka berubah menjadi pagar lingkaran. Kuman lainnya berubah menjadi Eka (pada kasus seperti ini, jumlah Eka dapat lebih dari satu). Eka yang tertangkap berganti peran menjadi Kuman, dan harus mengejar 'Eka-eka' lainnya.

Dalam proses diskusi, anak-anak dapat difasilitasi untuk menyimpulkan, bahwa:

Kuman dapat berada di mana saja. Setiap kali kita mencuci tangan, jumlah kuman yang menempel pada tangan kita akan berkurang. Jika kita hanya menggosok tangan sebentar (kurang dari 20 detik) ketika mencuci tangan, maka kuman-kuman yang menempel belum tentu hilang. 
Jika kita rajin mencuci tangan dengan sabun, maka kita bisa menghindari kuman. 

Permainan yang dimodifikasi dari permainan tradisional rakyat Aceh ini, menyisipkan pesan yang berhubungan dengan perlunya mencuci tangan ke dalam aturan permainan. Di lokasi pengungsian, semoga permainan seperti ini mengalihkan trauma mereka dari bencana yang sedang terjadi.

*Sumber dari permainan tradisional Aceh, Rimeung Ngon Kameng. Disadur dari Kumpulan Modul Kegiatan Cuci Tangan untuk Anak Setingkat Sekolah Dasar yang diterbitkan oleh: Save the Children, didukung oleh USAID.

28 August, 2008

Tujuan Belajar Berbasis Pencapaian

Kalau Anda adalah pendidik, atau pengajar, atau pelatih, mungkin sudah sering mendengar istilah tujuan belajar. Kalau guru di sekolah, istilah tujuan belajar terkadang disebut juga tujuan instruksional khusus, dan umum. Intinya, tujuan belajar adalah akan diapakan si peserta belajar dalam proses pembelajaran. Kalimatnya bisa berbunyi, "Setelah mengikuti sesi ini, peserta dapat..." dan seterusnya.

Dalam teori Dialogue Education (DE) yang diusung Jane Vella, tujuan belajar tidak seperti itu. Tujuan belajar Vella disebut sebagai Achievement-Based Objectives (ABO). Sulit untuk diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, makanya judul di atas adalah terjemahan bebas yang setengah ngarang. Dari Wikipedia, Dialogue Education dijelaskan sebagai berikut:


Dialogue education is a popular education approach to adult education first described by educator,Jane Vella in the 1980’s. This approach to education draws on various adult learning theories, including those of Paulo Freire, Kurt Lewin, Malcolm Knowles and Benjamin Bloom (Global Learning Partners, 2006b; Vella, 2004). It is a synthesis of these abstract theories into principles and practices that can be applied in a concrete way to learning design and facilitation. Dialogue education is a form of Constructivism and can be a means for Transformative learning, (Vella, 2004).


Memang DE adalah pengembangan dari Adult Learning, atau Pembelajaran Orang Dewasa (POD). Di Indonesia, POD seringkali hanya dipakai dalam program paket A, atau dalam pelatihan-pelatihan untuk LSM.

Dalam websitenya, Global Learning Partners, ABO dijelaskan sebagai berikut:


Achievement-Based Objectives (ABOs) that describe what the learners will have done with each content element according to Bloom's taxonomy of cognitive learning (e.g. solved, categorized, diagrammed, developed, evaluated) in observable and verifiable terms...

Jelas, ini berhubungan dengan Taxonomy Bloom tentang ranah belajar. Ada tiga ranah belajar menurut Bloom, Kognitif, Afektif, dan Psikomotor. Dalam contoh di atas menggunakan kata-kata bantu dalam Taxonomy Bloom di ranah kognitif.

Jika Anda perhatikan, hampr semua kata-kata bantu yang ditulis Bloom berbentuk kata kerja konkrit yang akan menghasilkan produk. Kata-kata kerja itulah yang menjadi tujuan belajar ala Vella. Misalnya, Mengkategorisasi, hasilnya adalah kategorisasi dari beberapa materi, entah berupa kategori benda, kata-kata, atau yang lainnya.

Inti dari penulisan tujuan belajar dengan ABO ini adalah 'memaksa' peserta belajar untuk melakukan sesuatu, sehingga setelah sesi belajar selesai, akan menghasilkan sesuatu yang bisa langsung diamati sebagai hasil belajar. Karenanya, penulisan ABO dalam Bhs. Indonesia terkadang berbunyi, "Dalam sesi belajar ini, peserta akan..." dan seterusnya. Kalau dilengkapi, maka kalimat itu seharusnya berbuntut "... yang hasilnya adalah...".

Sungguh penulisan tujuan belajar yang sangat ringkas dan terukur. Maka dalam merancang kegiatan belajarnya, kita sudah harus memperhatikan metode yang tepat, sesuai dengan aktivitas apa yang akan dilakukan oleh peserta belajar. Ini akan mendorong sebuah kegiatan belajar yang aktif, berpusat pada peserta belajar, dan sangat konstruktif. Vella sendiri punya cara dalam merancang kegiatan belajar, yang disebutnya sebagai 7 Step of Design.


Enhanced by Zemanta